DANANTARA

Danantara Perluas Kompleks Haji Indonesia Lewat Negosiasi Arab Saudi

Danantara Perluas Kompleks Haji Indonesia Lewat Negosiasi Arab Saudi
Danantara Perluas Kompleks Haji Indonesia Lewat Negosiasi Arab Saudi

JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara terus memperkuat langkah strategis dalam meningkatkan pelayanan bagi jemaah haji di Tanah Suci. 

Salah satu upaya yang kini tengah dilakukan adalah negosiasi dengan pemerintah Arab Saudi untuk membangun hotel tambahan khusus bagi jemaah Indonesia. 

Langkah ini menjadi bagian penting dari rencana besar pengembangan kampung haji Indonesia di Mekkah yang dirancang mampu menampung lebih banyak jemaah pada masa mendatang.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan bahwa negosiasi tersebut difokuskan pada pengadaan lahan guna membangun hotel baru. 

Saat ini, gedung hotel yang telah dibeli dan akan dijadikan kompleks haji diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 50.000 jemaah. Kapasitas tersebut dinilai belum mencukupi jika dibandingkan dengan potensi peningkatan jumlah jemaah haji Indonesia ke depan.

"Danantara juga sedang bernegosiasi terkait dengan lahan untuk membangun hotel sendiri lagi. Karena kalau di Novotel, paling bisa menampung sekitar 50.000," kata Dahnil.

Negosiasi ini menjadi bagian dari visi besar pemerintah dalam membangun kawasan terpadu yang tidak hanya menyediakan akomodasi, tetapi juga fasilitas penunjang lainnya bagi jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci.

Negosiasi Lahan untuk Perluasan Kapasitas Jemaah

Dahnil mengungkapkan bahwa langkah negosiasi tersebut sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto agar kompleks haji Indonesia dapat menampung sekitar 200.000 jemaah. 

Target ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam merancang infrastruktur jangka panjang yang mampu mengakomodasi lonjakan kuota haji di masa depan.

Menurut rencana, pemerintah juga berencana melengkapi kompleks haji dengan bangunan pasar hingga rumah sakit. Fasilitas tersebut dirancang untuk menciptakan kawasan terpadu yang memudahkan kebutuhan jemaah, mulai dari tempat tinggal hingga layanan kesehatan dan kebutuhan logistik sehari-hari.

"Jadi di situ dibangun sarana hotel, rumah sakit, pasar dan macam-macam. Nah keinginan presiden seperti itu. Nah, inilah kekuatan diplomasi yang ditunjukkan oleh presiden dan pelan-pelan kita bisa mewujudkan itu," kata Dahnil.

Diplomasi yang dilakukan pemerintah Indonesia menjadi elemen penting dalam proses negosiasi tersebut. Kerja sama bilateral dengan Arab Saudi diharapkan membuka peluang lebih luas bagi pengembangan kawasan haji Indonesia.

Akuisisi Hotel Novotel Tahap Awal Pengembangan

Pada tahap pertama pengembangan, Danantara telah membeli sebuah bangunan Hotel Novotel di kawasan Thakher (Taher), Mekkah. Lokasi hotel ini berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram, sehingga dinilai strategis dan memudahkan mobilitas jemaah menuju lokasi ibadah utama.

Proyek strategis tersebut mencakup akuisisi hotel 3 tower dengan jumlah 1.461 kamar serta penguasaan 5 hektar lahan yang direncanakan untuk pembangunan 13 tower tambahan berikut sarana dan prasarana lain. "Itu dibeli oleh Danantara. Dan insya Allah di bulan Januari-April kontraknya selesai," jelas dia.

Langkah akuisisi ini menjadi fondasi awal dalam mewujudkan kampung haji Indonesia yang lebih representatif. Dengan tambahan lahan yang tersedia, pemerintah memiliki ruang untuk mengembangkan fasilitas secara bertahap sesuai kebutuhan.

Sejalan Target Arab Saudi Tambah Daya Tampung

Pengembangan kompleks haji Indonesia juga disesuaikan dengan rencana besar pemerintah Arab Saudi yang menargetkan peningkatan daya tampung jemaah hingga 5 juta orang pada tahun 2030. Target tersebut membuka peluang bagi negara-negara pengirim jemaah, termasuk Indonesia, untuk mendapatkan tambahan kuota.

Lewat langkah itu, tambahan kuota yang berpotensi diterima Indonesia mencapai 100-200 persen dari kuota normal. Hal ini tentu memerlukan kesiapan infrastruktur, manajemen, serta tata kelola yang terintegrasi.

Saat ini, Indonesia diketahui memperoleh kuota haji terbesar dari Arab Saudi, yakni sebanyak 221.000 jemaah. Kuota tersebut terdiri dari 203.320 jemaah haji reguler dan 17.680 jemaah haji khusus.

Dengan jumlah yang besar tersebut, kebutuhan akomodasi dan fasilitas pendukung menjadi sangat krusial. Apalagi jika ke depan terjadi peningkatan kuota secara signifikan, maka kapasitas kompleks haji harus mampu menyesuaikan.

Tantangan Tata Kelola dan Lonjakan Jemaah

Dahnil menekankan bahwa pengembangan kompleks haji harus diiringi tata kelola yang baik dan berintegritas. 

"Memang ini akan terus berkembang, karena kalau jemaah yang akan berangkat di sana terus bertambah. Jadi coba Anda bayangkan kalau Presiden itu tidak mendorong spesialisasi keberadaan Kementerian Haji, itu akan menambah kompleksitas," ungkap Dahnil.

Ia juga memperkirakan bahwa jumlah jemaah haji Indonesia yang akan ditampung di masa mendatang bisa melebihi 500.000 orang, belum termasuk jemaah umrah yang jumlahnya juga terus meningkat setiap tahun.

"Tambah lagi ke depan jemaah haji kita yang akan ditampung di sana bisa lebih dari 500.000, belum lagi jemaah umrah yang juga otomatis juga akan bertambah. Dan itu membutuhkan tata kelola yang baik plus dengan integritas yang juga baik. Kalau tidak, potensial loss-nya akan sangat besar di satu sisi, kemudian kesemrawutan-kesemrawutan juga akan terjadi," imbuh dia.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa proyek pembangunan hotel dan kompleks haji bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari sistem besar pengelolaan jemaah secara profesional dan berkelanjutan.

Dengan negosiasi lahan yang masih berlangsung serta rencana ekspansi berkelanjutan, Danantara memainkan peran penting dalam memperkuat kehadiran Indonesia di sektor pelayanan haji di Arab Saudi. 

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, kompleks haji Indonesia di Mekkah diharapkan mampu menampung ratusan ribu jemaah, sekaligus mendukung peningkatan kuota di masa depan.

Langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kerja sama bilateral dengan Arab Saudi di bidang penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index