Eliza Mardian Soroti Infrastruktur Distribusi dalam Kenaikan Harga Pangan Menjelang Ramadan 1447 Hijriah

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:50:37 WIB
Eliza Mardian Soroti Infrastruktur Distribusi dalam Kenaikan Harga Pangan Menjelang Ramadan 1447 Hijriah

JAKARTA — Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economic (CORE) Eliza Mardian mengulas dinamika kenaikan harga pangan yang mulai terasa menjelang Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Menurut Eliza, lonjakan harga komoditas utama seperti ayam, telur, cabai, dan bawang bukan hanya sekadar fenomena musiman atau soal permintaan yang meningkat, tapi mencerminkan persoalan yang lebih mendasar pada infrastruktur distribusi serta pola produksi dan pasokan yang belum optimal di berbagai titik sepanjang rantai pasok pangan nasional.

Pengamatan Terhadap Pola Musiman dan Distribusi

Eliza menjelaskan bahwa kenaikan harga pangan menjelang Ramadan pada dasarnya merupakan siklus tahunan yang sudah pernah terjadi, dan setiap komoditas memiliki karakteristik musiman yang berbeda–beda. Ia mencontohkan komoditas ayam dan telur, di mana secara pola tahunan harga cenderung naik pada awal tahun dan kemudian kembali turun pada periode tertentu. Begitu pula dengan cabai yang sangat dipengaruhi musim hujan yang bisa menyebabkan banyak hasil panen cepat rusak, sehingga suplai berkurang sementara permintaan meningkat tajam.

Lebih jauh, Eliza menyoroti bahwa kendala distribusi turut memperparah tekanan harga di tingkat konsumen. Infrastruktur yang belum memadai serta panjangnya rantai distribusi antara sentra produksi dan pasar utama menjadi salah satu faktor yang membuat harga di konsumen cenderung lebih tinggi dibandingkan di produsen. Hambatan pada jalur distribusi ini, menurutnya, tidak hanya berimbas pada biaya logistik yang meningkat tetapi juga memperlebar disparitas harga antarwilayah.

Peran Permintaan Musiman dan Faktor Pemasokan

Fenomena kenaikan harga menjelang momen besar seperti Ramadan sebenarnya dipengaruhi kombinasi antara permintaan yang meningkat secara signifikan dan pasokan yang tidak segera menyesuaikan. Saat permintaan melonjak, komoditas yang pasokannya tidak cukup elastis akan mengalami tekanan harga lebih kuat. Eliza mencatat bahwa faktor permintaan ini semakin diperkuat oleh kebiasaan konsumsi masyarakat yang meningkat secara alami pada bulan suci, termasuk konsumsi komoditas yang sangat sensitif seperti cabai dan bawang.

Selain itu, faktor impor juga memengaruhi beberapa komoditas tertentu. Eliza menyebutkan bawang putih sebagai salah satu komoditas yang sangat dipengaruhi oleh harga internasional dan manajemen impor, sehingga fluktuasi global dapat turut berdampak pada harga domestik.

Tantangan Infrastruktur dan Rekomendasi Penguatan

Menurut pengamat ini, salah satu pekerjaan rumah yang mesti segera ditangani adalah memperkuat infrastruktur distribusi dari hulu ke hilir. Infrastruktur yang lebih efisien akan membantu mempercepat aliran barang dari sentra produksi ke pasar utama, menurunkan biaya logistik dan mengurangi selisih harga antarwilayah. Ia juga menekankan perlunya koordinasi lintas sektor untuk memperbaiki sistem distribusi sehingga stok pangan bisa lebih cepat diakses di daerah yang membutuhkan.

Lebih spesifik, ia menyoroti kebutuhan akan peningkatan fasilitas penyimpanan, penggunaan teknologi yang dapat memprediksi pasokan dan permintaan, serta peningkatan kapasitas jalan dan sarana angkutan di daerah-daerah penghasil pangan utama. Eliza menilai bahwa solusi struktural ini lebih berkelanjutan ketimbang hanya mengandalkan operasi pasar sesaat atau intervensi harga jangka pendek.

Imbas Kenaikan Harga pada Daya Beli Masyarakat

Kenaikan harga bahan pangan pokok tidak hanya berdampak pada pola konsumsi, tetapi juga berpotensi mengecilkan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Eliza menekankan bahwa jika harga terus melonjak tanpa diimbangi dengan pasokan yang memadai dan distribusi yang lancar, beban ekonomi bagi keluarga menengah bawah bisa semakin berat.

Dalam konteks ini, ia mendorong pemerintah dan pelaku pasar untuk tidak hanya fokus pada fluktuasi harga harian, tetapi juga memikirkan strategi jangka panjang yang dapat menstabilkan pasokan dan harga pangan nasional. Hal ini penting agar masyarakat tidak menghadapi gejolak harga yang tajam setiap kali menjelang momen besar seperti Ramadan atau Lebaran.

Arah Kebijakan dan Sinergi Antarlembaga

Pengamatan Eliza juga sejalan dengan sejumlah kebijakan dan langkah koordinatif yang sedang digalakkan pemerintah menjelang Ramadan. Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional dan instansi terkait memastikan pasokan pangan nasional dalam kondisi aman, dengan sebagian besar komoditas strategis berada pada posisi surplus atau setidaknya cukup untuk memenuhi permintaan hingga Idul Fitri. Pemerintah juga menekankan bahwa harga tidak boleh berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

Langkah-langkah seperti operasi pasar, monitoring harga oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), serta kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas harga. Meski demikian, Eliza menilai bahwa penguatan infrastruktur distribusi tetap menjadi isu krusial yang harus diatasi agar sistem pangan nasional lebih tangguh menghadapi tekanan musiman dan permintaan puncak.

Terkini