JAKARTA - Pelaku usaha logistik dan pemilik kapal secara tegas menyuarakan kekhawatiran atas antrean kapal yang semakin panjang dan layanan bongkar muat barang yang dinilai belum optimal di sejumlah pelabuhan domestik Indonesia. Fenomena ini dinilai tidak hanya memperlambat arus distribusi barang, tetapi juga meningkatkan biaya operasional dan menekan kinerja sektor logistik secara keseluruhan.
Sorotan Terhadap Antrean Kapal
Pengusaha logistik menyebut antrean kapal yang terjadi di pelabuhan-pelabuhan tertentu semakin membebani kegiatan usaha. Beberapa kapal dilaporkan harus menunggu waktu cukup lama sebelum bisa bersandar dan memulai proses bongkar muat, sehingga berpengaruh langsung terhadap jadwal distribusi barang. Kondisi ini terutama terasa saat volume logistik meningkat, baik untuk perdagangan domestik maupun rute ekspor–impor.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, menjelaskan bahwa salah satu penyebab antrean yang memburuk adalah keterbatasan jumlah dan kemampuan alat bongkar muat barang di berbagai pelabuhan. Alat yang kurang memadai dan produktivitas yang belum maksimal membuat waktu tunggu kapal untuk sandar dan bongkar muat menjadi lebih panjang dari idealnya.
“Kegiatan logistik melalui pelabuhan laut terus meningkat, terutama untuk jalur perdagangan domestik. Karena itu, pemerintah semestinya memprioritaskan peningkatan layanan pelabuhan domestik,” kata Sanjaya, menekankan pentingnya perbaikan agar proses pengiriman barang menjadi lebih efisien dan tidak membebani konsumen akhir.
Produktivitas Bongkar Muat yang Belum Maksimal
Keluhan terkait bongkar muat barang bukan hal baru. Di sejumlah pelabuhan, keterlambatan sandar kapal dan proses bongkar muat terjadi karena kapasitas alat yang masih kurang memadai. Misalnya, di beberapa terminal kontainer, produktivitas bongkar muat jauh di bawah standar ideal. Kapasitas peralatan di lapangan tidak mampu mengikuti laju pertumbuhan volume kargo yang masuk.
Kelambatan tersebut tidak hanya berdampak pada waktu tunggu kapal, tetapi juga menimbulkan kekurangan kontainer kosong di lokasi pelabuhan tertentu. Ketua ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menyoroti fenomena di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, di mana proses sandar dan bongkar muat kapal bisa memakan waktu hingga enam hari, jauh melebihi rata-rata waktu normal sekitar tiga hari. Hal ini turut memicu kekurangan kontainer kosong (shortage), yang memengaruhi jadwal pengiriman dan arus logistik secara umum.
Dampak Ekonomi dan Logistik
Antrean kapal yang panjang dan proses bongkar muat yang lambat memiliki dampak yang luas terhadap sektor logistik dan ekonomi nasional. Biaya operasional perusahaan logistik meningkat karena waktu tunggu yang lebih lama serta utilisasi armada dan tenaga kerja yang tidak efisien. Selain itu, ketidakpastian dalam jadwal sandar kapal turut menurunkan efektivitas operasional, yang pada akhirnya berdampak pada harga barang dan biaya akhir bagi konsumen.
Ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan arus barang dan kapasitas layanan pelabuhan juga merugikan produsen dan eksportir yang mengandalkan ketepatan jadwal untuk menjaga rantai pasok mereka. Gangguan dalam distribusi ini berpotensi menimbulkan keterlambatan dalam pengiriman bahan baku maupun produk jadi ke pasar domestik dan internasional.
Kebutuhan Evaluasi dan Peningkatan Layanan
Sejumlah pelaku usaha menilai bahwa solusi atas persoalan ini harus datang dari evaluasi menyeluruh terhadap sistem layanan pelabuhan. Mereka mendesak pemerintah dan pihak terkait melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi layanan bongkar muat di pelabuhan domestik, serta mempercepat modernisasi fasilitas dan peralatan agar produktivitas meningkat.
Selain itu, disoroti pula perlunya harmonisasi aturan dan prosedur yang lebih efisien di pelabuhan. Ketidakpastian regulasi dan tumpang tindih kebijakan kerap memperlambat proses operasional logistik, sehingga pelaku usaha berharap ada langkah konkret dari otoritas pelabuhan dan pemangku kebijakan untuk menyederhanakan proses tersebut.
Upaya dan Respons dari Pengelola Pelabuhan
Menanggapi keluhan ini, beberapa pengelola pelabuhan menyatakan bahwa mereka terus melakukan perbaikan fasilitas dan operasional di terminalnya. Misalnya, ada penambahan alat bongkar muat di beberapa terminal kontainer untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi layanan. Pada 2026, sejumlah unit crane dan peralatan lain direncanakan untuk dipasang di pelabuhan-pelabuhan utama guna mempercepat proses bongkar muat.
Pihak pelabuhan juga menegaskan bahwa jadwal sandar kapal telah diatur melalui sistem berthing window yang memperhitungkan kesiapan fasilitas, keselamatan, serta kelancaran arus kapal. Mereka memastikan bahwa pelayanan terus diperbaiki secara bertahap untuk menanggulangi keterbatasan yang ada saat ini.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Para pemangku kepentingan sektor logistik berharap upaya modernisasi dan peningkatan kapasitas layanan pelabuhan dapat berjalan lebih cepat. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, operator pelabuhan, asosiasi bisnis, dan pihak swasta dinilai penting untuk menciptakan sistem logistik yang lebih efisien dan kompetitif. Dengan kondisi pelabuhan yang semakin siap, diharapkan arus barang dan jasa di seluruh wilayah Indonesia dapat berlangsung lebih lancar, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.