JAKARTA - Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian yang juga Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera melakukan kunjungan langsung ke lokasi pembangunan Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Proyek jembatan permanen yang menjadi bagian penting pemulihan infrastruktur pascabencana tersebut menunjukkan perkembangan pembangunan yang semakin nyata.
Progres Pembangunan Jembatan Permanen Meningkat
Tito mengatakan bahwa pembangunan jembatan yang semula sempat terputus dan hanya dilayani jembatan darurat atau bailey kini telah memasuki tahapan yang cukup signifikan. Menurutnya, proyek konstruksi tersebut telah mencapai kemajuan sekitar 18 persen dari keseluruhan pekerjaan. “Kita sekarang ada di tepi sungai, di Krueng Tingkeum, di jembatan Kuta Blang. Ini [pembangunan] kita melihatnya sudah, pembangunan sudah berjalan 18 persen,” ujarnya di lokasi peninjauan.
Jembatan Krueng Tingkeum sebelumnya menjadi salah satu jalur vital yang patah akibat bencana yang melanda Aceh. Keberadaan jembatan permanen menjadi prioritas pemerintah agar mobilitas warga dan distribusi logistik di wilayah tersebut dapat kembali normal dan berjalan lebih lancar.
Target Penyelesaian Juli 2026
Mendagri menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini ditargetkan rampung pada Juli 2026. Dengan selesainya struktur permanen ini, masyarakat Aceh khususnya di Kabupaten Bireuen diharapkan mendapatkan manfaat jangka panjang terhadap kelancaran aktivitas sehari-hari dan konektivitas antar wilayah.
Kehadiran jembatan ini juga diharapkan memperkuat peran Aceh sebagai jalur penghubung penting antara Medan dan Banda Aceh yang selama ini sempat terganggu akibat terputusnya akses infrastruktur pascabencana.
Pujian Terhadap Tim Pelaksana Proyek
Dalam kunjungan tersebut, Tito juga memberikan apresiasi kepada pihak yang terlibat dalam pembangunan jembatan, khususnya kepada jajaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Ia menyebutkan kerja keras mereka yang luar biasa dalam memajukan proyek ini hingga mencapai progres saat ini. “Ini pasukan dari Menteri PU, Mas Dody, ini luar biasa [bekerja]. Terima kasih banyak. Mudah-mudahan cepat selesai, insyaallah,” tuturnya.
Apresiasi ini menjadi dorongan tersendiri dalam mempercepat proses konstruksi yang memang menjadi fokus pemerintah dalam pemulihan pascabencana di wilayah Aceh dan sekitarnya.
Kolaborasi Pemerintah Daerah dan Pusat
Selain menyampaikan progres pembangunan, Tito didampingi sejumlah pejabat daerah seperti Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Bupati Bireuen Mukhlis, serta Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Adwil) Kemendagri Safrizal dalam peninjauan tersebut. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk memastikan agar proyek pembangunan infrastruktur berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.
Menurut Tito, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting untuk mengatasi tantangan yang mungkin muncul dalam proses pembangunan, terutama pada proyek-proyek besar yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat luas.
Peran Jembatan dalam Mobilitas dan Ekonomi Regional
Jembatan Krueng Tingkeum nantinya akan memainkan peran strategis dalam memperlancar mobilitas warga dan distribusi barang, serta membantu pemulihan ekonomi di wilayah terdampak bencana. Dengan konektivitas yang lebih baik, diharapkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dapat kembali normal dan bahkan meningkat setelah rampungnya struktur permanen ini.
Menurut pengamatan di lapangan, pembangunan ini menjadi salah satu simbol penting dari upaya pemerintah dalam memperkuat infrastruktur di wilayah yang terkena dampak bencana, sekaligus menjadi wujud komitmen untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah yang terdampak.
Dengan meningkatnya progres pembangunan jembatan ini, masyarakat dan berbagai pihak terkait berharap agar target penyelesaian pada Juli 2026 dapat tercapai sesuai jadwal. Keberhasilan proyek ini diyakini akan memberikan dampak positif dalam membangun kembali kehidupan masyarakat Aceh pascabencana dan memperkuat konektivitas antarwilayah di provinsi tersebut.