Tantangan Operasional GBC Berimbas Pada Target Emas Freeport Indonesia 2026

Selasa, 03 Februari 2026 | 10:47:11 WIB

JAKARTA — Di tengah optimisme pasar terhadap prospek pertambangan nasional, PT Freeport Indonesia (PTFI) menetapkan target penjualan emas yang jauh lebih rendah untuk tahun 2026 dibandingkan capaian tahun-tahun sebelumnya. Penurunan itu bukan sekadar angka, melainkan mencerminkan dampak nyata dari gangguan operasional di salah satu tambang bawah tanah terpentingnya, yakni Grasberg Block Cave (GBC).

Di awal tahun ini, PTFI mengumumkan bahwa penjualan emas yang diincar hanya mencapai sekitar 830.000 ons atau setara 26 ton sepanjang 2026. Angka ini jauh di bawah angka realisasi tahun 2025 yang berada di atas 1,1 juta ons dan jelas lebih rendah dibandingkan output 2024 yang meraih 1,8 juta ons.

Dampak Longsor GBC terhadap Aktivitas Produksi

Kunci cerita di balik revisi target emas PTFI adalah insiden longsor yang melibatkan area tambang bawah tanah GBC pada September 2025 lalu. Peristiwa ini sempat menghentikan operasi di area utama yang biasanya menyumbang porsi terbesar produksi perusahaan. Karena itu, aktivitas penambangan PTFI saat ini berjalan terbatas pada dua zona tambang lain, yakni Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan, yang kapasitasnya hanya sekitar 30% dari kapasitas produksi normal.

VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Katri Krisnati, menjelaskan bahwa target penjualan emas tahun 2026 mencerminkan realitas keterbatasan produksi akibat gangguan itu. Rencana target tersebut memang disusun di tengah tekanan operasional, yang dipastikan membuat pasokan konsentrat ke fasilitas peleburan milik perusahaan belum kembali sepenuhnya normal.

Strategi Pemulihan dan Jadwal Operasional GBC

Meski tantangan besar melanda aktivitas bawah tanah, Freeport terus berupaya memulihkan operasional GBC secara bertahap. Menurut informasi resmi yang dirilis oleh Freeport-McMoRan, induk perusahaan PTFI, operasional di GBC dijadwalkan akan kembali berjalan mulai kuartal II-2026. Fokusnya adalah memperbaiki infrastruktur yang terdampak dan membersihkan area tambang dari material longsoran sebelum ramp-up kegiatan.

Dalam rencana tersebut, beberapa blok produksi di GBC, seperti Blok Produksi 2 dan Blok Produksi 3, diproyeksikan mulai beroperasi lebih dulu, sementara Blok Produksi 1 akan menyusul pada tahun berikutnya – 2027. Dengan pemulihan bertahap tersebut, Freeport-McMoRan berharap produksi PTFI dapat kembali mencapai sekitar 85% dari kapasitas normal pada semester kedua 2026.

Upaya ini tidak hanya penting untuk target produksi tahun berjalan, melainkan juga menjadi dasar untuk proyeksi jangka menengah perusahaan. Bahkan di luar target 2026, PTFI telah memasang bobot baru untuk produksi tahun 2027 dengan target sekitar 40 ton emas per tahun, yang akan sangat tergantung pada keberhasilan pemulihan tambang GBC.

Relasi Target Penjualan dan Pasar Domestik

Target penjualan emas PTFI hanya 830.000 ons pada 2026 juga tercatat mencerminkan strategi perusahaan dalam mengatur hubungan produksi dan permintaan domestik. Selain penjualan emas global, perusahaan juga menyiapkan pasokan emas batangan untuk pasar domestik, sebuah langkah yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi komoditas Indonesia.

Meski target penjualan turun, strategi jangka panjang seperti memasok emas batangan untuk pasar dalam negeri tetap diprioritaskan. Hal ini menunjukkan bahwa PTFI tidak hanya melihat target 2026 sebagai angka semata, tetapi juga sebagai bagian dari peta jalan kontribusi pada industri hilir dan kebutuhan logam mulia nasional.

Proyeksi Tahun 2026 sebagai Titik Transisi

Menghadapi tahun 2026, PTFI berada dalam fase transisi akibat dampak prolongasi penghentian aktivitas GBC. Realitas ini tercermin dalam penurunan target penjualan emas dan tembaga secara bersamaan, di mana penjualan tembaga juga ditetapkan lebih rendah dibanding pencapaian tahun sebelumnya.

Penurunan target ini bukan semata figure statistik, tetapi juga cerminan dari strategi adaptasi di tengah tantangan operasional. Dengan pemulihan produksi yang masih berlangsung dan diharapkan lebih optimal pada paruh kedua tahun ini, target jangka panjang PTFI serta kontribusinya terhadap pasar emas global dan domestik masih dipandang layak untuk dicapai seiring membaiknya situasi produksi.

Secara keseluruhan, target 830.000 ons emas di tahun 2026 menggambarkan bukan hanya penurunan target produksi, melainkan juga narasi perusahaan yang harus beradaptasi, mempertahankan komitmen pemulihan operasional, serta tetap berkontribusi terhadap pembangunan industri pertambangan nasional di tengah tantangan yang kompleks.

Terkini